SMAN 4 MAGELANG

berprestasi, berkarakter, & berbudaya

PATINALIS – Workshop “Born to be A Wonderful Women”

Anggota PATINALIS dan pembina

Senin, 25 April 2022, Senopati Jurnalistik (PATINALIS) merealisasikan kegiatan workshop pertama mereka. Workshop yang bertajuk “BORN TO BE A WONDERFUL WOMEN” ini bertujuan untuk memperingati Hari Kartini dan meningkatkan literasi tulis SMA NEGERI 4 Magelang dengan terus berkarya. Workshop ini menghadirkan salah satu narasumber istimewa dari Radar Magelang, ibu Listyorini Retno Wibowo, SS. sebagai pengisi acara inti workshop kali ini.

Pembawaan narasumber yang santai namun mengena menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi pendengarnya. Peserta seolah diajak ikut naik roller coaster dari cerita perjalanan hidup yang ternyata tidak mudah dari sisi seorang reporter perempuan. Perempuan yang katanya selalu menjadi alasan stigma masyarakat di semarakkan. Ada sedikit kisah menarik dari narasumber kita kali ini, yaitu beliau pernah menjadi wartawan yang mengisi koran ‘Meteor’. Koran meteor ini dulunya adalah koran yang memuat tentang kejadian-kejadian kriminal maupun kecelakaan. Bayangkan seorang perempuan harus terjun ke lapangan langsung melihat kondisi korban kecelakaan, melihat jenazah, dll demi mendapatkan berita. Namun menurutnya hal itu, menjadi suatu pengalaman yang tak terlupakan sepanjang hidupnya.

Ibu Listyorini Retno Wibowo, S.S

Selain itu, beliau juga banyak menceritakan tentang lika-liku susahnya menjadi wartawan perempuan. Contohnya beliau pernah diancam oleh tersangka karena memuat berita tentang tersangka tersebut. Namun beliau tidak patah semangat dan terus memperjuangkan hal yang menurutnya benar.

Melalui sesi QnA, banyak tercurah pertanyaan yang kritis sampai yang menggelitik. “Apakah kesetaraan gender juga didapatkan oleh transgender?” Ujar Nasywa dari kelas XI MIPA 2. Menurut narasumber, kesetaraan gender dapat didapatkan oleh siapapun. Kesetaraan gender artinya semua orang memperoleh haknya sebagai seoarang manusia, hidup bebas, dan bebas berkarya. “Begitupula dengan transgender, mereka masih sama halnya manusia dengan kita. baik laki-laki maupun perempuan kita semua sama-sama memilki struggle masing-masing,” pendapat seorang peserta offline workshop

Foto bersama narasumber

Ada lagi dua pertanyaan yang mendapat sorotan dari panitia kegiataan workshop kali ini dan mendapat reward dari panitia berupa pulsa sebesar Rp. 15.000,00 masing-masing pemenang tersebut. Yang pertama ada pertanyaan dari Irene Kristiana dengan pertanyan “Perempuan dan laki-laki itu kan setara kedudukannya, lantas bagaimana jika ada pandangan bahwa jika perbedaan adalah sebuah anugerah, mengapa perempuan ingin disetarakan dan disamakan dengan laki-laki?” Yang kedua merupakan pertanyaan dari Bintang Masayu dengan pertanyaan “Bagaimana jika kita tidak cukup beruntung? Contohnya kelompok perempuan yang berasal dari keluarga dengan perekonomian yang kurang mampu biasanya mengalami kesulitan mendapatkan akses pendidikan dibandingkan perempuan yang lahir dari keluarga berada. Saat ini tren perempuan berpendidikan tinggi secara ngga langsung telah meminggirkan perempuan yang tidak beruntung ujung-ujungnya, cita-cita kesetaraan pendidikan yang diusung kelompok feminis justru semakin memperkuat struktur diskriminatif.” Kedua pertanyaan tersebut telah ditanggapi dengan baik oleh narasumber. “Wah kritis ini pemikirannya” begitu ujar beliau sebelum menjawab pertanyaan tersebut.

Spiritual Motivation Achievement

Dalam rangka menyongsong Ujian Nasional tahun ajaran 2015/2016 diadakan serangkaian kegiatan satu diantaranya adalah Spiritual Motivation Achievement. Kegiatan ini dilaksanakan

Read More »